[Terbaru][6]

Nasional
Internasional
Sepak Bola
Hukum
Kesehatan
Teknologi
Politik
Kriminal
Sejarah
Inspiratif
F2
MotoGP
Basket
Bisnis
F1
Tinju
loading...

Trump Presiden, Jokowi Makin Mantap. Mengapa?


LiputaNesia.id - Ada yang ganjil saat pelantikan Trump sebagai Presiden AS ke 45, Jumat 20 Januari 2017 yang lalu. Dan itu menjadi sejarah baru di Amerika Serikat. Apa itu? Baru pertama kali, dalam acara yang diadakan di Capitoll Hill Washington DC dan dihadiri oleh 800 ribuan hadirin itu, pelantikan seorang presiden AS diramaikan dengan aksi demonstrasi yang besar, bahkan para domonstran hampir mendekati areal pelantikan. Sekalipun tidak sampai menimbulkan huru-hara, tetapi dilihat dari  kaca televisi nampak bahwa aksi itu telah membuat pihak keamanan setempat bekerja ekstra. Lebih dari itu, demonstrasi atas pelantikan seorang presiden di AS, jelas merupakan catatan buruk bagi demokrasi di negeri Paman Sam itu.

Apanya yang ganjil? Tentu saja ganjil. Sebuah negara yang disebut sebagai mbahnya demokrasi ternyata kali ini telah mempertontonkan sebuah peristiwa yang biasanya terjadi hanya di negara-negara yang demokrasinya belum matang. Bahkan jujur saja, dalam hal ini, demokrasi Indonesia boleh dibandingkan dengan demokrasi di sana. Indonesia sepantasnya bangga dalam hal ini.

Kita masih ingat pada Oktober 2014 yang lalu, saat Joko Widodo dilantik sebagai Presiden RI ketujuh. Begitu selesai pelantikan, Pak Jokowi turun ke jalan raya, mendatangi rakyat yang sudah berkumpul di jalanan, mengelu-elukan, dan mengaraknya cukup jauh, dengan kondisi jalanan sesak, berjubel, dan penuh massa yang sangat banyak. Dan massa tersebut bukan sedang berdemonstrasi menentang Presiden baru, melainkan sedang melakukan seremoni penyambutan rakyat yang luar biasa, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dengan membandingkan dua hal di atas, rasa-rasanya wajar jika kita mengatakan bahwa kualitas demokrasi di Indonesia lebih hebat daripada di AS sana. Mungkin ada yang berdalih, mengapa Trump didemo rakyatnya adalah karena adanya ketidakpuasan rakyat AS atas terpilihnya Trump. Sehingga demonstrasi itu dianggap wajar.

Oke, jangan lupa, ayo kembalikan ingatan kita pada saat Pilpres 2014 yang lalu itu. Bukankah kondisi Pilpres 2014 kemarin itu sangat menegangkan, bahkan hasil Pilpres pun diadukan ke Mahkamah Konstitusi? Belum lagi ditambah dengan drama-drama di luar persidangan yang juga menegangkan dan memacu adrenalin masyarakat.

Namun, begitu Mahkamah Konstitusi menolak gugatan pasangan yang kalah, sehingga Jokowi – JK pun akhirnya ditetapkan sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, rakyat Indonesia tidak sampai melakukan demonstrasi seperti yang terjadi di AS saat ini. Jelas, Indonesia lebih matang, dan ini sangat membanggakan sebagai bangsa.

Maka, apa pun kesan atas sosok pribadi dan bahkan kebijakan-kebijakan Trump nanti, kita bangsa Indonesia tidak mempedulikannya. Dulu, delapan tahun yang lalu, saat Barack Obama dilantik pertama kali, masyarakat Indonesia –dan bahkan dunia—seperti turut merasakan euforia atas kemenangan Obama, yang berhasil mengalahkan kandidat dari Partai Republik yang disinyalir akan meneruskan kebijakan yang tidak jauh dari “perang dan perang”, seperti pendahulunya, George W Bush.

Sekarang, berbeda dengan saat pelantikan Obama, masyarakat dunia termasuk Indonesia, sepertinya melihat terpilihnya Donald Trump dengan muka muram dan harapan suram. Ada kekhawatiran yang besar karena sosok pribadi dan program-program saat janji kampanye Trump yang “menakutkan” berbagai kalangan. Makanya, ketika pelantikan kemarin, masyarakat dunia pun sepertinya tidak terlihat merasakan euforia, malah sebaliknya sepeti deg-degan karena harus menerima kenyataan yang mungkin kelak akan pahit dan menimbulkan bencana kemanusiaan.

Mengapa masyarakat sampai memiliki kekhawatiran sejauh itu? Pertama, seperti kita lihat dan baca dari media-media, Trump sendiri adalah sosok yang kontroversial dalam pengertian negatif. Menurut kesan secara sekilas dengan melihat wajah dan gesturnya saat tampil di layar kaca misalnya, kita melihat sosok Trump sepertinya seorang yang arogan, keras kepala, tidak friendly, dan temperamental.

Entahlah, apakah kesan ini benar atau salah. Sebab, kesan itu memang hanya bersumber dari penglihatan jarak jauh, dan mungkin juga karena hasil pencitraan media. Namun, yang terserap dalam benak masyarakat dunia, termasuk kita, kesan tersebut kuat tertanam. Dengan kata lain, secara psikologis dan personal, kita seperti tidak nyaman dengan terpilihnya Trump, bahkan cukup khawatir.

Kekhawatiran yang lebih besar tentu saja sangat dirasakan oleh warga AS, yang sangat tidak menerima kenyataan bahwa Trump akhirnya terpilih. Apalagi mereka tahu bahwa dari segi jumlah kuantitas pemilih sebenarnya Trump kalah oleh Hillary. Akan tetapi, karena sistem pemilu di AS berbeda, maka yang dietapkan secara sah sebagai pemenang Pilpres AS adalah Trump.

Akan tetapi, sebenarnya yang lebih menimbulkan kekhawatiran atas Trump bukan faktor personal. Melainkan karena faktor berbagai program dan kebijakan yang akan digulirkan oleh Trump setelah ia resmi menjadi presiden. Di antara program dan kebijakan itu, misalnya ia hendak menutup perbatasan dengan Meksiko, dan menghapuskan program Obamacare. Bahkan usai pelantikan, tandatangan pertama Trump sebagai presiden adalah penghapusan Obamacare yang dianggap membebani anggaran negara.

Untuk program penghapusan Obamacare, yang merasakan dampak langsung adalah warga AS sendiri. Untuk program penutupan perbatasan dengan Meksiko, tentu saja warga perbatasan yang merasakan dampaknya, baik warga di perbatasan AS maupun Meksiko. Artinya, bagi negara-negara lain, kedua program itu tidaklah berpengaruh. Yang mengkhawatirkan adalah kebijakannya berkaitan imigran, perlindungan pada kaum minoritas, dan kebijakannya yang rasis dan Islamphobia. Kebijakan lainnya adalah kebijakan ekonominya yang protektif.

Dalam pemberitaan media, program dan kebijakan Trump dipandang rasis dan bersifat Islamphobis. Di antara yang ia sampaikan usai pelantikan adalah bahwa akan bertindak keras terhadap organisasi radikal Islam. Mungkin yang ia sasar adalah ISIS, sebuah organisasi yang justru dibentuk oleh pendahulunya melalui Menlu Hillary saat itu. Ini pula yang menjadi andalan kampanye Trump saat bertarung melawan Hillary.

Sebenarnya, kebijakan keras terhadap organisasi radikal semacam ISIS, memang sudah seharusnya. Karena, khususnya di Irak dan Suriah, organisasi ini telah menciptakan huru-hara dan bencana besar bagi kemanusiaan dan peradaban. Hanya saja, yang terlihat dari kebijakan itu adalah semangat Islamphobia dan rasisnya. Pembatasan imigran pun terkesan ditujukan untuk kalangan Muslim.

Saat Trump lolos dari konvensi partai Republik, ada seorang murid yang sedang bersekolah di AS. Kepada ibunya penulis bertanya apakah anaknya tetap akan meneruskan kuliah di AS ketika Trump menang? Dengan perasaan waswas, si ibu hanya berharap semoga tidak terjadi apa-apa, sambil melihat perkembangan beberapa waktu ke depan. Rupanya, efek Trump bagi warga Muslim yang tinggal di AS cukup terasa mengkhawatirkan. Tidak terkecuali warga Muslim yang menempuh pendidikan di AS. Apa yang dirasakan ibu tadi bisa mewakili kekhawatiran mereka.

Berkaitan dengan kebijakan ekonomi Trump yang akan berdampak pada hubungan bilateral atau multilateral adalah kebijakannya yang protektif dan tertutup. Dengan kebijakan ini, impor ke AS khususnya dari negara-negara tertentu bisa jadi akan mengalami penurunan, terutama Meksiko dan Tiongkok. Negara kita pun bisa jadi akan terkena dampak pembatasan impor ini. Karenanya, saat Trump dilantik, dalam running text di sebuah televisi, menghadapi kebijakan Trump ini Menkeu Sri Mulyani akan wait and see.

Dan, bagaimana Jokowi merespon pelantikan Trump, ini yang membuat saya terkesan. Seperti ramai diberitakan, Jokowi telah mengucapkan selamat atas pelantikan Trump melalui telepon, dan ia menyatakan kepada Trump kurang lebih sebagai berikut, “Saya optimis hubungan Indonesia-AS akan lebih baik tetapi harus  saling menguntungkan kedua belah pihak. Saya garis bawahi adalah saling menguntungkan.”

Frase “harus saling menguntungkan” ini yang mencerminkan wibawa Indonesia di mata AS. Ini sekaligus pesan penting agar AS tidak lagi jumawa apalagi mendikte terhadap Indonesia. Seolah Presiden Jokowi ingin menyampaikan kepada Trump, “Anda jangan macam-macam kepada Indonesia.” Di tangan Jokowi, Indonesia berbeda dengan sebelumnya. Ketika nanti Trump membatasi perdagangan dengan Indonesia, misalnya, sejauh yang bisa kita amati, Jokowi telah mempersiapkannya.

Kebijakan pembatasan impor Trump memang bisa jadi akan berpengaruh pada neraca perdagangan Indonesia dengan AS. Tetapi, jauh-jauh hari Jokowi telah memperluas hubungan perdagangan dengan berbagai negara berpengaruh lainnya. Seperti dengan Tiongkok, Jepang, Rusia, India, dan Iran. Dan perluasan perdagangan dan investasi dengan beberapa negara tadi sudah Jokowi lakukan sebelum Pilpres AS dilakukan.

Artinya, jauh-jauh hari Indonesia sudah mengurangi ketergantungan ekspor kepada AS. Dengan menggarap pasar Tiongkok dan India saja, dua negara dengan populasi terbesar di dunia itu, ini sudah luar biasa. Apalagi ditambah dengan pasar Timur Tengah, khususnya Iran yang memiliki prestasi dalam pengembangan teknologi.

Apa efek positif dari kebijakan Trump yang protektif dan tertutup itu bagi Indonesia? Jelas ada. Hingga beberapa bulan yang lalu, perluasan hubungan bilateral yan dilakukan oleh Jokowi dengan beberapa di atas, yakni Tiongkok, Jepang, Rusia, India dan Iran, oleh para penentangnya selalu dianggap sebagai pergeseran kebijakan politik luar negeri Indonesia. Bahkan, intesitas investasi dan wisatawan besar asal Cina menjadikan Jokowi dituduh condong kepada komunis, yang ujung-ujungnya dikait-kaitkan dengan PKI.

Nah, dengan kebijakan protektif Trump nanti, justru ini akan sangat menguntungkan bagi Jokowi. Karena, itu akan menjadi alasan tambahan bagi Jokowi untuk memperluas dan meningkatkan hubungan dengan beberapa negara yang sekarang sudah dibangun. Sehingga, kalangan pembenci Jokowi yang selama ini sering mengkritik karena kebijakannya lebih berorientasi ke Timur, diharapkan mulai mengerti mengapa Indonesia harus meninggalkan ketergantungan kepada Barat, khususnya AS, yang juga sebenarnya mereka harapkan.

Jadi, dengan Trump jadi presiden yang cenderung protektif dan tertutup itu, justru Jokowi kian mantap untuk membawa Indonesia lebih independen dan kuat, sesuai Nawacita yang digalakkan. Asal terus memperjuangkan Nawacita seperti yang diharapkan, Indonesia makin berpeluang untuk tumbuh maju, besar dan kian diperhitungkan.

Siapa pun sepakat, bahwa sangat bergantung kepada satu negara itu amat buruk dan membahayakan. Dan ketika sekarang Jokowi membangun hubungan intensif dengan berbagai negara itu jelas merupakan upaya membangun kemandirian dan mempertahankan kedaulatan negara.

Maka, silakan saja Trump jadi presiden. Apa pun kebijakanya, apa pun programnya, terserah dia. Tetapi inilah Indonesia baru, yang akan berhubungan dengan negara mana pun dengan asas saling menguntungkan, dan siap mengabaikan negara mana pun yang merugikan. Termasuk negara Anda, Trump. Karena Indonesia saat ini sedang berada di track yang benar untuk menciptakan sejarahnya yang baru.

Trump menjadi presiden AS, justru saat bangsa Indonesia sedang memiliki kebanggaan cukup terhadap negara dan negerinya. Di tangan Jokowi, Indonesia sedang berpeluang untuk berdiri dengan kepala tegak…! Maka, terserah apa pun kebijakan Anda, Trump. Ini Indonesia baru…!

Salam bangga menjadi Indonesia…


Sumber: seword.com
REMI13 adalah Agen Poker, DominoQQ, Ceme, Sakong & Capsa Online Indonesia dengan predikat 'Pendatang Baru Terbaik'. Situs Poker Online satu ini menyediakan pelayanan yang profesional serta proses Deposit / Withdraw yang super cepat, kurang dari 3 menit jika bank tidak terjadi gangguan / offline.

LiputaNesia.id

Kumpulan Berita Terkini dan Viral

Start typing and press Enter to search

close
Poker Online Indonesia Terpercaya