[Terbaru][6]

Nasional
Internasional
Sepak Bola
Hukum
Kesehatan
Teknologi
Politik
Kriminal
Sejarah
Inspiratif
F2
MotoGP
Basket
Bisnis
F1
Tinju
loading...

3 Cara Sederhana Habibie untuk Bertemu Jokowi


LiputaNesia.id - "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"

Agaknya, sajak Sapardi Djoko Darmono di atas tepat disandingkan dengan pertemuan Jokowi dan BJ Habibie. Sajak itu sangat pedek, sederhana, tetapi penuh sendu dan ketulusan. Sekalipun kayu harus hangus menjadi abu dan sekalipun awan harus menghilang menjadi hujan, ia tetap bisa mencintai dengan sederhana.

Habibie adalah mantan presiden atau mantan pemimpin Indonesia selama kurang dari 2 tahun. Pernah menjadi orang nomor 1 yang memimpin 250 juta orang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Dengan kesederhanaan, mengenakan peci, lurik, dan celana polos hitam, tanpa embel-embel. Ia datang pada Jokowi.

Habibie menyerahkan kepercayaan dan tampuk kepemimpinan dengan cara yang sederhana. Ia memasrahkan kepemimpinan Indonesia kepada si Joko, anak muda, mantan tukang kayu dari Solo, yang kurus, item, dan suka cengengesan.

Anda pikir ini perkara mudah bagi seorang Habibie menemui Jokowi dengan cara yang sederhana? Natürlich nicht! Tentu saja tidak. Secara natural dalam konstruksi budaya Indonesia adalah sebuah keharusan bagi yang muda sowan kepada yang tua. Apalagi junior dalam pemerintahan kepada seniornya. Itu tata kramanya.

Tetapi, bagi Habibie, perpindahan kekuasaan baginya sudah biasa. Toh, sudah tiga kali dia harus menghormat kepada mantan presiden sebelumnya.

Habibie sudah selesai dengan dirinya sendiri dan dengan kekuasaan.

Yang menarik bagi saya di sini justru adalah bagaimana Habibie secara simbolik menunjukkan sebuah pesan politis yang sangat kuat secara umum maupun spesifik kepada orang tertentu. Bertepatan dengan pesan itu, kurang dari 24 jam, ada saja Mantan yang baper setengah mati. Walhasil, kepada Tuhan di Twitterlah ia berkeluh. Entahlah, mungkin sekarang Tuhan menerima paket doa lewat Twitter bukan lewat sajadah atau tasbih lagi. Itulah teknokratik pesan ala Habibie begitu kuat dan mengguncang jiwa.

Saya mencoba melihat peristiwa Habibie ini dari kacamata retorika visual. Ini adalah sebuah kajian untuk melihat sebuah dokumen visual yang mengkomunikasikan sebuah gambar dan interaksi antara gambar dan teks. Tujuannya sederhana. Retorika visual ingin menunjukkan pengertian sebuah pesan dan arti. Caranya adalah dengan membedah pesan visual secara terpisah dan mencoba memahami bagaimana bagian tersebut menyampaikan maknanya.

Saya sendiri tidak tahu apakah Habibie sengaja menggunakan atau melakukan atribut visual ini atau tidak. Itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana atribut visual ini memiliki kekuatan pesan untuk mendobrak pemahaman publik secara umum maupun spesifik.

Dengan mengenakan kacamata visual retorika, saya mengasumsikan peribahasa Jerman ini dilakukan oleh Habibie yakni, "Erst denken, dann handeln." Berpikir dahulu, lalu bertindak. Habibie tidak secara random mengenakan atribut visual, tetapi secara strategis dilakukan dan dipikir masak-masak untuk membentuk postur persepsi dalam benak audiens yang ia targetkan. Mari kita lihat.

1. Kopiah Hitam dan Muslim Proletar
Kopiah hitam adalah bagian dari identitas kaum muslim laki-laki Nusantara. Tidak hanya di bumi Indonesia tetapi juga semenanjung sekitarnya yakni Singapura, Malaysia, Brunei Darrusalam, bahkan Thailand selatan. Kopiah hitam tidak semata-mata penutup kepala saja, tetapi menjadi penanda kelompok tertentu. Kopiah hitam mendefinisikan siapa Habibie dalam menyampaikan pesan kepada publik.

Bung Karno adalah orang pertama yang mempromosikan kopiah untuk menunjukkan Muslim nusantara dalam pergaulan internasional. Secara historis, Bung Karno berhasil mendobrak kelas menengah terpelajar jaman dulu untuk membuat identitas sendiri. Identitas non-blok, identitas rakyat Indonesia, identitas intelektual dan pemimpin. Ingat, menurut Colin Brown hingga Ben Anderson, Indonesia belum memiliki definisi identitas yang jelas pada saat dibentuk. Indonesia masih menjadi imagined community yang absurd. Soekarno sebagai teknokrat budaya dan sosial menjadi insinyur bagi terbentuknya identitas Indonesianis ini.


Soekarno pernah menyentak masyarakat dengan mengatakan: "Kamu itu pemimpin atau pengekor? Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!" Kaum elit Indonesianis pun terlongo. Sejak itu mereka pun berkopiah hitam. Mereka membentuk inteletual Muslim Nusantara yang berlandaskan Pancasila.

Habibie pun meneriakkan hal yang sama dengan kopiah hitamnya. Ia yang dikenal luas seantero akademisi Jerman, dengan rendah hati sadar bahwa ia adalah orang Indonesia. Ia adalah kaum intelektual muslim nusantara.

2. Tuah Garis-garis Lurik Habibie
Apalah arti penting lurik? Tidak penting jika yang memakai Anda atau saya. Tetapi menjadi sangat penting jika dipakai Habibie pada saat ia bertemu Jokowi. Mengapa?

Lurik yang bermotif garis lurus menunjukkan kesederhanaan. Nian S. Djoemena menyebut lurik sebagai garis-garis bertuah. Ya, benar. Sebab jenis dan jumlah garis pada lurik sarat dengan makna. Menunjukkan doa, harapan, petuah, dan cita-cita pemakainya. Pun, kata rik dari Lurik berarti perlindungan bagi yang memakai maupun yang melihatnya.


Lurik Habibie memiliki arti dari sisi corak. Jika kita crop hasilnya menjadi seperti ini:
Lurik ini adalah motif sapit urang/udang. Ada garis tebal yang menjepit garis lebih tipis di tengahnya. Sapit udang memiliki simbol suatu siasat perang. Musuh dijepit dan dikepung dari samping. Lalu, kekuatan dan komando penyerang ada di tengahnya.

Bagi yang paham makna lurik, tentu akan menyengitkan dahi. Mengapa Habibie memakai Lurik Sapit Urang? Siapa yang tengah dikepung? Siapa yang sedang bermain siasat perang.

Secara spesifik, keseluruhan maknanya menjadi menjadi seperti sebuah fashion statements: wahai kamu yang sedang menjalankan siasat perang. Kamu telah dikepung. Komandan yang sedang kutemui ini dilindungi yang Maha Kuasa. Menyerahlah!                  

Tidak heran ada yang kemudian baper setengah mati. Rasa sakit dan gusar pun dilempar ke ranah massa melalui media sosial karya anak-anak Silicon Valley yang katanya mau didemo belakangan ini.

3. Berjabat tangan sambil meremas lengan
Kali ini dengan bahasa tubuh, kita bisa melihat perpaduan jabatan tangan yang sangat akrab. Kedua tokoh menjabat tangan dengan kuat dan sama-sama meletakkan tangan di lengan satu sama lain.

Jenis jabat tangan ini adalah jenis jabat tangan profesional, akrab, sekaligus menunjukkan dukungan. Keduanya saling mendukung untuk bekerja satu sama lain, yang ditunjukkan dengan meremas lengan.

Dalam produksi visual ini, saya melihat Habibie tampak lebih agresif untuk menyampaikan makna. Saya membacanya menjadi sebuah dukungan untuk menguatkan Jokowi dan sekaligus kepercayaan yang hangat padanya. Mungkin Habibie hendak mengingatkan Jokowi bahwa Aller Anfang ist schwer atau memulai sesuatu bukanlah hal mudah, tetapi berjanjilah untuk tegar dan tetap bertahan.

Akhirnya, saya ingin menutup dengan ini: “Man muss die Dinge nehmen, wie sie kommen.” Peribahasa dari Jerman ini berisi sebuah filosofi kehidupan bahwa seseorang perlu menerima apa adanya segala siklus kehidupannya. Menerima kehidupan secara sederhana, bahwa akhirnya kayu harus hangus untuk menghasilkan api dan awan harus menghilang untuk menurunkan hujan.

Demikian pula dengan kekusaan. Seseorang bisa saja dipuja-puja selama beberapa tahun. Tetapi, akan tiba masanya ia harus menghilang dari hingar bingar puja-puji dan menjadi nobody. Seperti kata Obama yang keluar dari White House dan sangat menyadari bahwa ia akan kembali menjadi warga negara biasa, demikian pula semua mantan Presiden kita. Mereka kini adalah warga negara biasa.

Habibie tahu dan sadar betul tentang hal berkesenian menjadi “Nobody Nobody but Habibie”. Ia memainkannya dengan amat baik dan menikmatinya. Ia tidak perlu koar-koar bahwa ia dizolimi oleh mereka yang menyebar hoax kepadanya. Ia tidak perlu merasa jadi korban dan sok-sokan membela rakyat kecil. Ia hanya cukup menjadi Habibie, wong cilik dengan otak yang besar, bukan kepala besar.

Ia adalah Habibie yang menemui Jokowi dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menghanguskannya, dengan kata yang tak sempat diucapkan awan pada hujan yang menjadikannya tiada.


Percayalah Pak Habibie, saat kami mengingat Sajak Sapardi, kami mengingat teladanmu. Seperti awan yang meskipun hilang karena hujan, ia akan selalu bangkit kembali… Kapanpun, untuk meneduhkan manusia dari sengatan sang Surya.


Sumber: seword.com
REMI13 adalah Agen Poker, DominoQQ, Ceme, Sakong & Capsa Online Indonesia dengan predikat 'Pendatang Baru Terbaik'. Situs Poker Online satu ini menyediakan pelayanan yang profesional serta proses Deposit / Withdraw yang super cepat, kurang dari 3 menit jika bank tidak terjadi gangguan / offline.

LiputaNesia.id

Kumpulan Berita Terkini dan Viral

Start typing and press Enter to search

close
Poker Online Indonesia Terpercaya